Kemarilah sayang dan duduklah di sisiku.
Ia takkan memaksamu untuk tetap tinggal,
meski saat semua rinduku terlalu bersemangat
untuk tetap bertahan di tengah malam sekalipun.
Dan kita masih berkutat pada pikiran kosong
yang tak pernah bosan kau tinggali,
itu aku sayang!! Yang mencintaimu begitu dalam
meski bisu tak bersuara.
Kelak di saat senja telah memudar
seiring luka yang kau tinggalkan sore itu
akan ku pastikan dirimu untuk mengerti; bahwa dirimulah
yang menjadikan aku perempuan yang pandai menangis,
tertawa dalam kesepian yang terlahir dari luka.
Namun, suatu ketika cinta yang kau puja benar-benar
menusukmu dengan bengis dan kejam.
Kau hanya bisa tertunduk lesu di balik pintu kamarmu,
berbicara sendiri, mengungkapkan cinta dengan lantang,
cinta yang telah membidik hatimu,
dan kau akan mengasingkan dirimu
lalu perlahan menjauh dari keramaian..
karna akan terlalu perih jika harus membaur dengan segala
keriuhan
sedangkan hatimu sudah tak berbentuk lagi.
Kemarilah sayang dan duduklah di sisiku,
kau tak ingin seperti itu bukan? temanilah kebodohanku,
akrablah dengan kesedihanku dan kita hanya sepasang
boneka tua di sudut kota.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar