Senin, 25 September 2017
Hujan untuk senja
Kau selalu bercerita tentang bagaimana pertama kali kau menyukai hujan saat senja, kau memberitahuku dan memaksaku untuk menyukainya.
Aku menolak, aku tak suka hujan, aku juga tak suka senja karna aku menyukai malam. namun berulangkali kau mengetuk pintu rumahku dan menyeret ku untuk pergi ke bukit sekedar menikmati hujan saat senja.
aku mulai menyukainya saat kau tertawa menikmati buih rintik hujan dan cahaya jingga sang senja yang menerpa tubuhmu, ahh.... kau begitu tampan mempesona. kau mendekat memegang tanganku dan memeluk erat ragaku, detik itu juga aku menyukai hujan saat senja juga dirimu.
sering kau mengatakan bahwa senja adalah aku, begitu lembut dan menenangkan sedangkan hujan adalah dirimu, menyejukan dan selalu datang tiba-tiba.
ingatkah kau dengan semua kenangan kita dulu?
setelah kita bermain hujan kau selalu mengajakku ke rumah mu, meminjamkan setelan piyama untukku juga warna yang senada untuk mu.
kau mengajarkan ku membuat susu yang dicampur dengan remukkan oreo, sekedar untuk menghangatkan dan bercerita bahwa hujan ditakdirkan untuk senja seperti kita.
Bukankah kau berjanji akan kembali?
Palung jiwa yang bersemayam dalam diri ini telah usang terkikis waktu.
Namun terkadang cinta menguatkan, terkadang juga menjatuhkan langkah ku saat ini, sedang menata hati dengan teliti menjalani hidup tanpa banyak komentar dan menerima setiap kenyataan, aku belajar berdiri setelah jatuh meski berkali-kali, aku bersyukur telah belajar dari kebahagiaan hidup. aku terus berlajan dalam bingkai kehidupan sambil menikmati manis pahit kenyataan hidup, mencoba menyempurnakan ketegaran meski tanpa penopang sekalipun. namun kini aku kehilangan arah entah kemana. cintaku pergi, kasihku hilang. kini hanya sebungkus rindu yang ku simpan rapi dalam hatiku. akankah Tuhan memberikan seseorang seperti mu lagi? ataukah Tuhan akan mengembalikan mu di hidupku? seringkali ku sebut namamu dalam mimpi, berharap kita bertemu melepas rindu dalam hangatnya dekapanmu. bukankah kau berjanji untuk kembali bukan?
Namun terkadang cinta menguatkan, terkadang juga menjatuhkan langkah ku saat ini, sedang menata hati dengan teliti menjalani hidup tanpa banyak komentar dan menerima setiap kenyataan, aku belajar berdiri setelah jatuh meski berkali-kali, aku bersyukur telah belajar dari kebahagiaan hidup. aku terus berlajan dalam bingkai kehidupan sambil menikmati manis pahit kenyataan hidup, mencoba menyempurnakan ketegaran meski tanpa penopang sekalipun. namun kini aku kehilangan arah entah kemana. cintaku pergi, kasihku hilang. kini hanya sebungkus rindu yang ku simpan rapi dalam hatiku. akankah Tuhan memberikan seseorang seperti mu lagi? ataukah Tuhan akan mengembalikan mu di hidupku? seringkali ku sebut namamu dalam mimpi, berharap kita bertemu melepas rindu dalam hangatnya dekapanmu. bukankah kau berjanji untuk kembali bukan?
Kamis, 21 September 2017
Sepasang Boneka Tua
Kemarilah sayang dan duduklah di sisiku.
Ia takkan memaksamu untuk tetap tinggal,
meski saat semua rinduku terlalu bersemangat
untuk tetap bertahan di tengah malam sekalipun.
Dan kita masih berkutat pada pikiran kosong
yang tak pernah bosan kau tinggali,
itu aku sayang!! Yang mencintaimu begitu dalam
meski bisu tak bersuara.
Kelak di saat senja telah memudar
seiring luka yang kau tinggalkan sore itu
akan ku pastikan dirimu untuk mengerti; bahwa dirimulah
yang menjadikan aku perempuan yang pandai menangis,
tertawa dalam kesepian yang terlahir dari luka.
Namun, suatu ketika cinta yang kau puja benar-benar
menusukmu dengan bengis dan kejam.
Kau hanya bisa tertunduk lesu di balik pintu kamarmu,
berbicara sendiri, mengungkapkan cinta dengan lantang,
cinta yang telah membidik hatimu,
dan kau akan mengasingkan dirimu
lalu perlahan menjauh dari keramaian..
karna akan terlalu perih jika harus membaur dengan segala
keriuhan
sedangkan hatimu sudah tak berbentuk lagi.
Kemarilah sayang dan duduklah di sisiku,
kau tak ingin seperti itu bukan? temanilah kebodohanku,
akrablah dengan kesedihanku dan kita hanya sepasang
boneka tua di sudut kota.
Langganan:
Komentar (Atom)